Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Puisi: Ruang Meraung

Ada rumpang yang tidak kunjung rampung. Ada raung samar yang diam-diam ia tanggung, kepalanya dirundung pertanyaan yang membuat air matanya terbendung; Mengapa kebaikan belum juga berkunjung? Mengapa tak ada satu pun saran dari kepalanya yang sudi semesta tampung? Jiwanya sudah ingin tumbang,  namun, ia selalu mengupayakan agar keyakinannya tak hilang, ia selalu menguatkan diri sendiri dengan mengulang-ulang kalimat yang semakin lama semakin terdengar usang,  "Apalah artinya segala hal ini jika dibanding dengan balasan abadi yang kelak akan datang?" "Rasa-rasanya, sabar jadi tidak terasa kalau dibandingkan dengan surga yang keindahannya sulit untuk dibayang."

Berandai (Bisa) Memoles Otak

Saya sering bertanya-tanya,  apa kiranya bagian yang menarik sehingga orang sudi mendekat dengan saya yang tak ada apa-apanya? Saya betul-betul tersandung saat ada yang menjawab,  "Ya, kamu kan cantik, gitu aja ditanya." Sungguh, saya justru merasa hina mendengarnya. Apa ... sebatas itu saja? Sebatas itu penilaian sisi paling baik bagi saya? Sebatas pemanis di mata? Alih-alih senang, saya malah meradang; lagipula, ayolah, di mana letak cantiknya saya yang bahkan sering berdebat dengan pantulan diri sendiri dari kaca?! "Saya suka cara kamu mikir, beda aja, kayak puisi, seolah gamblang tapi makna sebenarnya cuma penulisnya yang tahu. Sepanjang apapun kamu cerita, ada bagian yang tetap cuma kamu yang punya." Jawaban semacam itu, sungguh membuat saya merasa sangat amat tersanjung, merasa betulan berharga, karena isi kepala saya dihargai, kehadiran saya dinanti bukan sebatas untuk pemanis mata--namun juga untuk bertukar cerita dari isi pikiran y...