Berandai (Bisa) Memoles Otak
Saya
sering bertanya-tanya, apa kiranya bagian yang menarik sehingga orang
sudi mendekat dengan saya yang tak ada apa-apanya?
Saya
betul-betul tersandung saat ada yang menjawab, "Ya, kamu kan
cantik, gitu aja ditanya."
Sungguh,
saya justru merasa hina mendengarnya. Apa ... sebatas itu saja? Sebatas itu
penilaian sisi paling baik bagi saya? Sebatas pemanis di mata?
Alih-alih
senang, saya malah meradang; lagipula, ayolah, di mana letak cantiknya saya
yang bahkan sering berdebat dengan pantulan diri sendiri dari kaca?!
"Saya
suka cara kamu mikir, beda aja, kayak puisi, seolah gamblang tapi makna
sebenarnya cuma penulisnya yang tahu. Sepanjang apapun kamu cerita, ada bagian
yang tetap cuma kamu yang punya."
Jawaban semacam itu, sungguh membuat saya merasa sangat amat tersanjung, merasa
betulan berharga, karena isi kepala saya dihargai, kehadiran saya dinanti bukan
sebatas untuk pemanis mata--namun juga untuk bertukar cerita dari isi pikiran
yang kadang memang ada-ada saja.
Saya
sendiri kurang tertarik mengomentari baik buruknya seseorang yang memoles diri
sedemikian rupa, toh, lumrah saja, kan? Terlebih jika mengingat pemberitaan
masa kini lebih banyak berfokus pada hal-hal semacam itu.
Saya
merasa sudah sangat langka manusia yang menilai seseorang bukan hanya dari
tampilan fisik saja. Benar-benar langka. Saya tahu, bagaimanapun caranya, isi
kepala tetap jadi poin utama, namun--poin dari penampilan yang menarik pun
memengang kendali yang cukup besar pengaruhnya.
Tetap
saja, saya senang sekali mengetahui masih ada segelintir manusia yang tidak
mudah menilai sebatas tampilan luarnya saja. Saya senang, isi bumi masih peduli
tentang pola pikir sesama, tidak terpaku pada hal-hal yang bersifat fisik atau
hal 'di luar diri' saja.
Terlebih,
saya senang sekali saat tahu kalau mereka yang saling tertarik dengan isi
kepala itu tidak berteman sebatas formalitas atau demi meraup keuntungan berupa
materi atau ide semata, saya senang saat menemukan mereka yang berteman karena
ketulusan.
Saya
sering berandai-andai, andai pemberitaan lebih banyak berfokus pada pola pikir,
bukan sebatas harta, tahta apalagi rupa, mungkin semua orang akan 'memoles
otak' sedemikian rupa sehingga akhirnya semesta jadi lebih baik lagi.
Namun andai sekadar andai, saya bukan Ilahi yang bisa
mengatur setiap pribadi, lagipula; ini dunia, bukan surga yang berisi manusia
sempurna dari ujung kepala hingga ujung kaki, kan?
Penutup dari saya, jangan
fokus pada rupa, boleh saja, tidak ada salahnya mencari yang menawan dan jadi
pemanis mata--namun jangan lupa, sungguh, akan lebih bijak jika tidak
mengalihkan seluruh fokus hanya pada rupa semata.
Lantas jika ada seseorang yang menyukaimu tanpa melihat fisik hanya karena mungkin dari suara kamu, mata, tangan, atau bahkan jari yang merupakan hal kecil yang dapat dilihat, maka apakah kamu akan mepertahankan orang itu?
BalasHapusTentunya standar nilainya bukan di situ tapi di cara menjalaninya tentang benarkah suka berdasarkan fisik atau menjalani hari-hari yang lebih banyak bersama sehingga tumbuh rasa suka
Hapus