Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Maaf, untuk segala hal mengecewakan.

Ada banyak kesalahan yang dapat manusia lakukan selama hidupnya. Tidak terhingga kalau harus dijumlahkan dalam perhitungan matematika.  Saya manusia, dan tentu saja pernah--oh bukan, bukan pernah, tapi--sering sekali membuat kesalahan. Tiada hari tanpa kesalahan. Ada banyak jenis kesalahan, boleh jadi yang hanya berhubungan dengan diri sendiri, dengan satu orang, atau dengan banyak orang sekaligus. Setiap saya melakukan kesalahan pada diri sendiri, saya tidak pernah marah sama sekali, saya memaklumi, tanpa mencaci-maki, karena dengan mencaci diri sendiri, saya tidak dapat apa-apa selain rasa sakit yang makin berlipat ganda. Lain halnya saat saya melakukan kesalahan pada orang lain. Benar, saya tidak akan menyalahkan mereka yang sering menilai saya apatis pada lingkungan. Karena memang saya ingin dikenal sebagai seseorang yang tidak terlalu banyak memikirkan berbagai hal--meski dalam kenyataannya, saya sungguh pemikir bahkan untuk hal-hal remeh bagi sebagian orang. ...

Saya pergi karena--saya sayang sekali

Ada beberapa hal di dunia ini yang kadang terlihat aneh, namun sangat nyata. Bahkan lebih nyata dari segala yang pernah dilihat oleh mata manusia. Ada beberapa hal tak kasat mata terasa lebih dalam di dada karena--rasa memang tidak mengenal suara, tidak mengenal siapa, tidak mengenal kemana. Ia selalu ada bahkan tanpa diminta. Ya, semata-mata karena hadirnya memang misterius, membuat--memaksa kita, berpikir lebih nyata. "K--ka--kam--u, benar-benar mau pergi?" Suara itu menginterupsi ia yang tengah sibuk melihat kiri kanan yang dipenuhi genangan, untung saja ia terlatih menahan genang di pipinya sendiri agar tidak turut membasahi hari ini. Ia mengangguk pasti. Lawan bicaranya bergeming, tidak mengerti sama sekali apa kiranya yang ada di pikiran manusia di hadapannya. "Tap--tapi, ke--kenapa?" Yang ditanya hanya mengangkat sebelah alisnya, mempertahankan raut wajah serius yang mati-matian ia paksakan di tengah keinginannya menumpahkan air mata. "Kenapa t...

Dialog Biru--Introvert dan Problematikanya

Energiku rasanya habis terkuras. Akhir-akhir ini, aku terlalu cepat lelah. Entahlah, perasaanku saja atau memang begitu kenyataannya. "Biru, aku capek banget. Serasa bukan jadi aku." Ujarku setelah menarik nafas panjang, hei, bahkan untuk berbicara pun rasanya aku mulai tak kuasa. "Kebanyakan dopamin, ya, Ann?" Balas lawan bicaraku. Aku bahkan tidak bisa mengingat apa itu dopamin, rasanya ingin cepat tidur nyenyak saja. Dahiku mengernyit, alisku naik sebelah, terlalu lelah bertanya dengan suara, biarlah raut wajah yang bersuara. "Masa kamu lupa sih, Ann? Dopamin, senyawa yang muncul kalau kamu lagi senang. Kamu terlalu senang, ya? Sampai jadi agak bodoh begini?" Aku mengangguk dan tersenyum bodoh. Aku tahu, Biru akan memaklumi semua kebodohanku karena dia sudah tahu sejak awal bahwa sebenarnya aku bahkan tidak pernah jadi pintar. "Susah, ya, Biru, jadi introvert. Senang sedikit, capeknya bukan kepalang. Bicara sedikit, tremornya sepanjanga...

Dialog Biru-- Kehilangan ketakutan

Aku gusar. Bukan kepalang, jika saja isi kepala bisa tembus pandang, maka mungkin jutaan benang kusut yang berdenyut di otakku ini sudah jelas terbentang.⁣⁣ ⁣⁣ "Kamu tahu, Biru, ada banyak sekali hal tentang hari-hari ke depan yang benar-benar aku takutkan." setelah hening cukup lama, aku membuka suara, jenuh sekali menyimpan semua ketakutan ini sendirian.⁣⁣ ⁣⁣ "Sebutkan, Ann. Siapa tahu, dengan membaginya, ketakutan itu bisa berkurang atau bahkan sirna." jawabnya, tenang, seperti biasa.⁣⁣ ⁣⁣ Aku menggigit bibir, bahkan hanya dengan berusaha mengucapkan ketakutan ini pun aku menjadi sangat takut. "Aku... cuma takut, akan kehilangan, Biru."⁣⁣ ⁣⁣ Biru menghela nafas, aku tahu, topik tentang kehilangan adalah hal yang sudah sering aku bicarakan, tapi, ayolah, yang kumaksud kali ini berbeda.⁣⁣ ⁣⁣ "Aku sudah bilang kalau apapun tidak pernah kita miliki seutuhnya, Ann. Apa yang harus ditakutkan lagi? Kamu juga sudah percaya dan memegang prinsip ya...

Harapan yang tidak sempat diperjuangkan

Mengikhlaskan keinginan yang bahkan belum pernah diperjuangkan adalah pergulatan batin yang panjang dan menyedihkan.  Rasanya, lebih baik bertemu dengan kegagalan daripada tidak pernah bisa memperjuangkan setitik keinginan itu walau sesaat saja. Mungkin, beginilah cara Pencipta menunjukkan bahwa sejatinya; sehebat apapun kemampuan, sekeras apapun keinginan, pada akhirnya, beberapa hal yang tidak ditakdirkan untuk dilakukan--tidak akan pernah terlaksana, bahkan, tidak akan pernah sempat untuk diperjuangkan, sekeras apapun hal itu disebut dalam doa-doa sarat harapan mengenai kebaikan. Pada akhirnya, ada beberapa ingin yang memang batasnya tetaplah pada ingin saja, ada beberapa angan yang takdirnya hanya untuk berlalu ditiup angin kehidupan, ada beberapa kenyataan yang tak akan berubah segarispun, entah untuk sementara atau untuk selamanya. Selamat tanggal sebelas maret, pada keinginan yang tidak pernah sempat diperjuangkan. Entah pada siapa harus meminta maaf selain pada diri se...