Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Tentang Jarak

Kini mari kita bercengkrama tentang masalah kecil, hanya tentang jarak, yang sering dianggap pemisah, penghancur, penyebab rindu nan sendu yang tak kunjung sudah. Anehnya, ketika banyak dari kalangan manusia yang menganggap jarak adalah sarana menjauhkan—yang terjadi padaku justru sebaliknya, jarak yang jauh adalah sarana pendekatan terbaik. Laksana bumi dan mentari yang menatap dari jarak berjuta kilometer jauhnya. Aku jatuh cinta pada jarak yang terbentang jauh di antara aku dan segala hal yang kuinginkan. Ketika aku dan impianku dipisah oleh jarak yang amat jauh, aku begitu semangat memperjuangkannya—sebab aku tahu, tak kan mudah bagiku menuju mimpiku itu. Dan mimpi selamanya adalah mimpi jika tak kuperjuangkan dengan sebenar-benar perjuangan. Ketika aku sadar bahwa jarak antara aku dan mimpiku masih amat jauh, aku akan semakin giat berusaha dan berdoa supaya kelak tak ada lagi jarak di antara aku dan mimpiku itu. Ketika aku sadar bahwa kelak ada kemungkinan bahwa aku da...

Dialog Malam -- Rasa yang tak terbaca

Aku hanya sedikit lelah. Entah mengapa, masalah kini datang di waktu yang sama. Kini segala keinginanku nampak mustahil sebab datang di waktu yang amat salah. Aku sudah tidak mengerti harus apa, rasanya hidupku hampa. Aku laksana benda mati, hidupku terasa sudah tidak berarti. Aku lelah berpura-pura bahagia menutup tangis yang membanjiri hati, namun aku juga tak bisa berbagi kesedihan dengan seisi bumi-- dengan diriku sendiri pun, aku sulit membaginya. "Kamu kenapa?" Pertanyaan ke sekian yang kudapatkan. Pertanyaan yang sama, dengan jawabanku yang tetap sama pula. "Gak apa-apa." Bukan. Aku bukannya tidak kenapa-kenapa. Aku sendiri hanya bingung sebenarnya aku sedang kenapa. Apa sebab aku merasa sangat nestapa? Apa yang melatarbelakangi tangis terpendam dalam hati ini? Sudah-- aku sudah benar-benar tidak mengerti. Rasanya ingin mati. Percuma hidup jika rasanya seperti sudah mati. Aku tidak bisa menangis. Tidak bisa lagi mengeluh. Tidak bisa... aku... ha...

Kepadamu, yang menyakiti sedemikian rapi

Untuk kali ini, tulisan tertuju pada seseorang yang mungkin tak kan pernah membacanya. Sebenarnya, ini melanggar prinsip yang sudah saya buat sendiri, tentang saya yang tidak pernah mau mengumbar tentang dia—karena, tidak ada gunanya. Tak apa, untuk kali ini saja, izinkan saya mengabadikan dia. Kepadamu, yang   mungkin tidak akan pernah membaca ini, yang sudah menyakitiku sedemikian rapi. Kini, aku berteman dengan sakit dan sesak akibat sebuah rasa. Rasa pada seseorang yang kukira baik, bisa menjagaku, bisa menyenangkanku. Salahku, tak bisa menjaga hati untuk seseorang yang sedang mencicil kepastian untukku, salahku yang tidak bisa menjaga perasaan ini untuk seseorang di masa depan yang sudah ditakdirkan Pencipta padaku. Salahku, menduakan Pencipta dengan manusia sepertimu yang tak pernah bisa kupercaya. Aku laksana terjebak dalam situasi dimana aku menjadi seseorang yang ditakdirkan Pencipta untukku di masa depan. Aku menunggu kamu yang justru mengharapkan orang lain yang le...

Bahagia itu tipuan.

(edisi cerita pendek ) Kadang, manusia terpaku pada hidupnya sendiri untuk menakar kesedihan, seolah-olah dirinya seorang yang paling menyedihkan, paling patut dikasihani, paling punya banyak masalah. Lalu, disaat bersamaan manusia juga selalu terpaku pada kehidupan orang lain untuk menakar kebahagiaan, seolah orang lain yang dilihatnya itu selalu lebih bahagia, selalu lebih mempunyai segalanya dan seolah semua orang selain dirinya adalah manusia yang paling beruntung, dan manusia sering menganggap dirinya adalah suatu kutukan yang abadi. Jujur, aku kesal dengan sifat-sifat manusia yang seperti itu. Namun, ya... aku juga manusia, maka dari itu cukup untukku memberi toleransi, supaya kalau-kalau aku sedang "kumat" manusia lain juga bisa memberiku toleransi yang sama. Hari ini, mentari sedang tidak menampakkan diri meski sudah siang, hujan mengambil alih tugasnya untuk waktu yang tergolong lama. Aku terjebak m enikmati hujan yang membuatku menunggu angkutan umum lebih...

Sederhana saja

Gambar
Setelah pergulatan panjang berbulan-bulan dengan diri sendiri, akhirnya postingan pertama di ruang sepi ini berhasil terealisasi. Dan tulisan pertama ini pun tewujud sebab kesadaran yang muncul sewaktu " mendesain " ruang sepi ini. Manusia itu, ternyata memang sifat dasarnya senang sekali "gaya", entah sesuai kemampuan atau tidak, yang penting gaya. contoh kecilnya, adalah diri saya sendiri. Waktu mendesain blog ini, saya mati-matian inginnya terlihat "wah"--padahal, saya benar-benar tidak tahu tentang dunia desain blog. Lalu, saya rasanya makin "tersiksa" saat lihat referensi desain blog dari orang lain yang jelas sudah lebih berkompeten daripada saya. Ada juga, yang desain blognya sederhana sekali, tapi saat melihatnya dalam hati saya bertanya-tanya, "kok, enak banget lihatnya, ya? Padahal, cuma gini aja, putih polos, warna font-nya hitam. Apa yang beda, ya?". Dari pertanyaan sendiri, akhirnya saya juga menemukan jawaban sendir...