Saya pergi karena--saya sayang sekali

Ada beberapa hal di dunia ini yang kadang terlihat aneh, namun sangat nyata. Bahkan lebih nyata dari segala yang pernah dilihat oleh mata manusia.

Ada beberapa hal tak kasat mata terasa lebih dalam di dada karena--rasa memang tidak mengenal suara, tidak mengenal siapa, tidak mengenal kemana. Ia selalu ada bahkan tanpa diminta. Ya, semata-mata karena hadirnya memang misterius, membuat--memaksa kita, berpikir lebih nyata.

"K--ka--kam--u, benar-benar mau pergi?" Suara itu menginterupsi ia yang tengah sibuk melihat kiri kanan yang dipenuhi genangan, untung saja ia terlatih menahan genang di pipinya sendiri agar tidak turut membasahi hari ini.

Ia mengangguk pasti. Lawan bicaranya bergeming, tidak mengerti sama sekali apa kiranya yang ada di pikiran manusia di hadapannya.

"Tap--tapi, ke--kenapa?"

Yang ditanya hanya mengangkat sebelah alisnya, mempertahankan raut wajah serius yang mati-matian ia paksakan di tengah keinginannya menumpahkan air mata. "Kenapa tidak?" Jawabnya santai, meski kenyataannya--ia tidak santai, ia menahan segala gejolak dalam dadanya.

"Kamu jahat. Jahat sekali. Kamu pergi setelah semua orang senang kamu ada di sini. Harusnya, kamu  jangan buat orang senang dengan hadirmu kalau ujungnya kamu cuma mau singgah." Napas lawan bicaranya tercekat, satu tetes air keluar dari ekor matanya meski ia sendiri sudah menahan mati-matian.

Lagi-lagi, ia yang diajak bicara justru menghela napas, sebenarnya ia hanya mengalihkan kesedihannya sendiri. "Kamu tahu? Saya pergi, karena saya sayang sekali dengan segala hal yang ada di sini." Ujar manusia yang nampak tak punya hati  itu akhirnya.

"Termasuk sama kamu. Saya sayang sekali. Saking sayangnya itu, saya harus pergi, enggak bisa terus menerus ada di sini." Lanjutnya.

Lawan bicaranya menatap nanar, setetes lagi air mata yang coba ia tahan justru meluap, "Tapi, kenapa? Kenapa harus pergi kalau benar sayang? Kita bisa buat hari-hari yang jauh lebih baik lagi kalau kamu di sini!"

"Karena jarak adalah sarana mencintai paling indah. Jarak yang jauh adalah sarana pendekatan paling baik, sabar, esok, lusa, kalau memang saya diharuskan dan ditakdirkan membangun masa depan di sini, maka saya akan kembali, dengan atau tanpa kamu cari. Saya minta, berbahagialah, ya? Jangan cari saya, biar saya yang mencari kamu, biar semua yang mencari kamu." Ujarnya, dengan benteng pertahanan yang benar-benar hampir roboh.

"Saya pergi, saya enggak bisa pastikan kalau hati saya akan selalu ada di sini, jadi, kamu enggak usah menunggu--karena, kalau begitu, kamu hanya menyakiti diri sendiri. Kita fokus berbenah, supaya kelak, kita bertemu dengan wujud diri yang lebih baik lagi. Jangan nangis, kamu jelek sekali, ayo, senyum." Lanjutnya.

"Saya pergi karena saya sayang sekali dengan segala hal yang ada di sini." Tegasnya sekali lagi, dengan air mata yang diam-diam jatuh tanpa ia sadari.

Lawan bicaranya hanya diam, mencoba menghentikan tangisan dan mencoba memahami segala yang baru saja didengarnya. Mungkin, tidak semua hal bisa ia mengerti hari ini, detik ini juga. Ia hanya mencoba menerima, apapun yang akan terjadi, terjadilah.

Mungkin, hari ini segalanya masih sulit dimengerti, namun, esok, lusa, setelah dijalani, hikmah yang ada pasti mulai jelas, ia hanya perlu melatih diri untuk ikhlas menjalani, walaupun pada akhirnya ia tetap tidak akan mengerti segala hal yang didengarnya hari ini.

"Hati-hati." Ujarnya, berbalik, melambaikan tangan, melepaskan harapan, menyimpan kenangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berandai (Bisa) Memoles Otak

Kepadamu, yang menyakiti sedemikian rapi