Kepadamu, yang menyakiti sedemikian rapi
Untuk kali
ini, tulisan tertuju pada seseorang yang mungkin tak kan pernah membacanya.
Sebenarnya, ini melanggar prinsip yang sudah saya buat sendiri, tentang saya
yang tidak pernah mau mengumbar tentang dia—karena, tidak ada gunanya. Tak apa,
untuk kali ini saja, izinkan saya mengabadikan dia.
Kepadamu, yang mungkin tidak akan pernah membaca ini, yang sudah menyakitiku sedemikian rapi.
Kini, aku berteman dengan sakit dan sesak akibat sebuah rasa. Rasa pada seseorang yang kukira baik, bisa menjagaku, bisa menyenangkanku. Salahku, tak bisa menjaga hati untuk seseorang yang sedang mencicil kepastian untukku, salahku yang tidak bisa menjaga perasaan ini untuk seseorang di masa depan yang sudah ditakdirkan Pencipta padaku. Salahku, menduakan Pencipta dengan manusia sepertimu yang tak pernah bisa kupercaya.
Aku laksana terjebak dalam situasi dimana aku menjadi seseorang yang ditakdirkan Pencipta untukku di masa depan. Aku menunggu kamu yang justru mengharapkan orang lain yang lebih baik. Sungguh, ternyata menyakitkan sekali rasanya. Benar, semesta selalu punya cara yang luar biasa untuk membuat kita sadar akan salah yang sudah kita lakukan.
Aku sudah dengan sengaja melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan. Aku sudah meletakkan rasa pada dirimu, yang ternyata menyakitiku lebih dalam dari apa yang kukira. Aku... ingin sekali bercerita pada seseorang yang dapat kupercaya, sesak ini tak lagi dapat kusimpan seorang diri, aku tak mau menangis karena perasaan konyol yang tak tepat waktu seperti ini. Aku sudah memohon ampun pada Pencipta, berulang kali aku meminta rasaku padamu enyah saja, namun... rasa itu masih tetap ada. Meski tak utuh karena terbagi pada ia yang ada di masa lalu, rasaku padamu tetap ada, rasa terkutuk itu terus menghantuiku.
Aku hanya lelah, untuk menerima kebohonganmu, untuk menjadi penonton bayaran tentang kisahmu dan dirinya. Tidak—bahkan, kamu membuatku membayar dengan harga diriku untuk sekadar menjadi penonton rasa yang kalian simpan diam-diam. Kusuruh kamu merelakanku, kamu berkata : “kamu hanya salah paham”.
Paham macam apa yang harus kuanut supaya aku bisa berkata bahwa kalian tak memiliki rasa apa-apa? Bagaimana bisa aku percaya atas apa yang kusaksikan? Tentang ia yang berkarya setiap usai melihatmu meski dari jauh, tentang ekspresi tak biasamu ketika bertemu tak sengaja dengannya, tentang ekspresi senyum malu-malunya ketika ia tak sengaja mengendus kedatanganmu, bagaimana bisa?
Bagaimana bisa aku tak berasumsi buruk jika apa yang kamu katakan tentang apa yang terjadi antara kamu dan dia selalu saja dusta? Bagaimana bisa aku mempercayaimu lagi setelah berkali-kali kau sakiti sedemikian dalam dengan kebohongan yang terus kamu tanam? Tak bisakah sejenak, kamu pahami... lukaku, lebih besar daripada miliknya. Masalahku, lebih krusial daripada yang ia punya. Pernahkah sejenak saja kau pikirkan betapa aku tersiksa hidup di dunia yang semakin hari semakin kejam ini?
Aku berbagi tentang kisah piluku padamu meski kau tak pernah membantuku, aku membagi rahasia hidupku, keseharianku, aku berbagi duniaku padamu... dan, yang kau lakukan, justru mencari tahu tentang dia. Kau menyelesaikan masalah kecilnya. Kau mengubah sikapnya, kau berperan sedikit besar dalam hidupnya meski sebenarya ia bisa menyelesaikan itu sendiri saja.
Lalu kau membandingkan aku dengan dia. Kamu mendeskripsikan bahwa ia adalah pribadi yang tertutup, dan secara tidak langsung menyebutku sebagai pribadi yang terbuka. Tak pernahkah kamu ketahui, aku hanya terbuka tentang hidupku pada orang-orang tertentu, aku bisa saja lebih selektif daripada dirinya, mengapa tega kamu membandingkan aku begitu kejamnya?
Kemudian, kamu bilang... sikapnya pada lawan jenis sungguh amat terjaga, dan kamu jelas menyuruhku supaya bersikap sepertinya. Tak sadarkah kamu, ramah memang sifatku, tapi aku sungguh bukan manusia murahan seperti yang kamu pikirkan. Mengapa... tidak bisa sejenak saja, kamu memandang bahwa aku adalah pribadi yang bisa jadi lebih baik daripada dirinya?
Mengapa... kamu bersemangat sekali dengan hal yang berkaitan dengan dirinya? Kamu menyelesaikan masalahnya, mencari topik penting yang bisa kamu bahas dengannya, memberi tahunya tentang dirimu, meminta ia menolong masalahku. Mengapa? Mengapa kamu bertindak seolah peduli padaku jika hanya menunggu dirinya? Mengapa tega kamu menjadikanku mainanmu selagi menunggu cicilan kepastianmu padanya lunas?
Kamu memang menyakitiku sedemikian rapi, terbungkus halus dibalik segala kebahagiaan semu yang kamu berikan. Kini, hanya satu yang kuinginkan untuk kisah ini, aku hanya ingin semuanya berakhir. Aku ingin menyudahi benciku pada dirinya yang menyukaimu dengan cara yang amat lucu. Aku ingin berhenti menyukai dirimu yang mencintainya dengan tulus dan amat suci.
Aku menyerah pada kisah pertemanan tak biasa kita, aku tak ingin lagi menduakan Pencipta hanya karena manusia sepertimu. Biarlah, aku tak kan kenapa-kenapa jika kau tidak lagi ada, toh, adanya dirimu tak membantu banyak, aku hanya bisa bercerita padamu dan kamu hanya bisa tidak mengerti. Aku hanya bisa menanggapi topik tak menyenangkan darimu dengan berpura-pura tak apa. Kamu menanggapi topik dariku dengan raut tak tak ikhlasmu.
Kini, aku hanya ingin kita berhenti berpura-pura, aku ingin aku dan kamu berhenti menjalani kisah yang salah. Kejarlah ia, lunasi cicilan kepastianmu padanya, aku tak apa. Aku akan meminta pada Pencipta supaya Ia menganugerahi hatiku dengan kotak keikhlasan. Aku akan meminta, semoga kamu merasakan bagaimana rasanya menjadi aku, aku akan meminta... semoga dengan kututupnya tulisan ini, tertutup pula segala sakit yang ada dalam dadaku.
Selamat tinggal, jika kamu yang kumaksud sedang membaca ini. Berhenti memperbaiki apa yang dari awal kamu lakukan dengan tiada sedikitpun niat baik. Aku paham alurnya, kamu akan berkata ini salah paham, tapi... tak ada salah paham berulang pada hal yang sama, sayang. Biarlah, ikhlaskan, kamu tak kan bisa memiliki dua hati sekaligus. Ambillah hatinya, ia lebih baik daripada diriku. Aku melepasmu dengan segenap sakitku. Semoga aku tak bertemu kamu di lain waktu.
Kepadamu, yang mungkin tidak akan pernah membaca ini, yang sudah menyakitiku sedemikian rapi.
Kini, aku berteman dengan sakit dan sesak akibat sebuah rasa. Rasa pada seseorang yang kukira baik, bisa menjagaku, bisa menyenangkanku. Salahku, tak bisa menjaga hati untuk seseorang yang sedang mencicil kepastian untukku, salahku yang tidak bisa menjaga perasaan ini untuk seseorang di masa depan yang sudah ditakdirkan Pencipta padaku. Salahku, menduakan Pencipta dengan manusia sepertimu yang tak pernah bisa kupercaya.
Aku laksana terjebak dalam situasi dimana aku menjadi seseorang yang ditakdirkan Pencipta untukku di masa depan. Aku menunggu kamu yang justru mengharapkan orang lain yang lebih baik. Sungguh, ternyata menyakitkan sekali rasanya. Benar, semesta selalu punya cara yang luar biasa untuk membuat kita sadar akan salah yang sudah kita lakukan.
Aku sudah dengan sengaja melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan. Aku sudah meletakkan rasa pada dirimu, yang ternyata menyakitiku lebih dalam dari apa yang kukira. Aku... ingin sekali bercerita pada seseorang yang dapat kupercaya, sesak ini tak lagi dapat kusimpan seorang diri, aku tak mau menangis karena perasaan konyol yang tak tepat waktu seperti ini. Aku sudah memohon ampun pada Pencipta, berulang kali aku meminta rasaku padamu enyah saja, namun... rasa itu masih tetap ada. Meski tak utuh karena terbagi pada ia yang ada di masa lalu, rasaku padamu tetap ada, rasa terkutuk itu terus menghantuiku.
Aku hanya lelah, untuk menerima kebohonganmu, untuk menjadi penonton bayaran tentang kisahmu dan dirinya. Tidak—bahkan, kamu membuatku membayar dengan harga diriku untuk sekadar menjadi penonton rasa yang kalian simpan diam-diam. Kusuruh kamu merelakanku, kamu berkata : “kamu hanya salah paham”.
Paham macam apa yang harus kuanut supaya aku bisa berkata bahwa kalian tak memiliki rasa apa-apa? Bagaimana bisa aku percaya atas apa yang kusaksikan? Tentang ia yang berkarya setiap usai melihatmu meski dari jauh, tentang ekspresi tak biasamu ketika bertemu tak sengaja dengannya, tentang ekspresi senyum malu-malunya ketika ia tak sengaja mengendus kedatanganmu, bagaimana bisa?
Bagaimana bisa aku tak berasumsi buruk jika apa yang kamu katakan tentang apa yang terjadi antara kamu dan dia selalu saja dusta? Bagaimana bisa aku mempercayaimu lagi setelah berkali-kali kau sakiti sedemikian dalam dengan kebohongan yang terus kamu tanam? Tak bisakah sejenak, kamu pahami... lukaku, lebih besar daripada miliknya. Masalahku, lebih krusial daripada yang ia punya. Pernahkah sejenak saja kau pikirkan betapa aku tersiksa hidup di dunia yang semakin hari semakin kejam ini?
Aku berbagi tentang kisah piluku padamu meski kau tak pernah membantuku, aku membagi rahasia hidupku, keseharianku, aku berbagi duniaku padamu... dan, yang kau lakukan, justru mencari tahu tentang dia. Kau menyelesaikan masalah kecilnya. Kau mengubah sikapnya, kau berperan sedikit besar dalam hidupnya meski sebenarya ia bisa menyelesaikan itu sendiri saja.
Lalu kau membandingkan aku dengan dia. Kamu mendeskripsikan bahwa ia adalah pribadi yang tertutup, dan secara tidak langsung menyebutku sebagai pribadi yang terbuka. Tak pernahkah kamu ketahui, aku hanya terbuka tentang hidupku pada orang-orang tertentu, aku bisa saja lebih selektif daripada dirinya, mengapa tega kamu membandingkan aku begitu kejamnya?
Kemudian, kamu bilang... sikapnya pada lawan jenis sungguh amat terjaga, dan kamu jelas menyuruhku supaya bersikap sepertinya. Tak sadarkah kamu, ramah memang sifatku, tapi aku sungguh bukan manusia murahan seperti yang kamu pikirkan. Mengapa... tidak bisa sejenak saja, kamu memandang bahwa aku adalah pribadi yang bisa jadi lebih baik daripada dirinya?
Mengapa... kamu bersemangat sekali dengan hal yang berkaitan dengan dirinya? Kamu menyelesaikan masalahnya, mencari topik penting yang bisa kamu bahas dengannya, memberi tahunya tentang dirimu, meminta ia menolong masalahku. Mengapa? Mengapa kamu bertindak seolah peduli padaku jika hanya menunggu dirinya? Mengapa tega kamu menjadikanku mainanmu selagi menunggu cicilan kepastianmu padanya lunas?
Kamu memang menyakitiku sedemikian rapi, terbungkus halus dibalik segala kebahagiaan semu yang kamu berikan. Kini, hanya satu yang kuinginkan untuk kisah ini, aku hanya ingin semuanya berakhir. Aku ingin menyudahi benciku pada dirinya yang menyukaimu dengan cara yang amat lucu. Aku ingin berhenti menyukai dirimu yang mencintainya dengan tulus dan amat suci.
Aku menyerah pada kisah pertemanan tak biasa kita, aku tak ingin lagi menduakan Pencipta hanya karena manusia sepertimu. Biarlah, aku tak kan kenapa-kenapa jika kau tidak lagi ada, toh, adanya dirimu tak membantu banyak, aku hanya bisa bercerita padamu dan kamu hanya bisa tidak mengerti. Aku hanya bisa menanggapi topik tak menyenangkan darimu dengan berpura-pura tak apa. Kamu menanggapi topik dariku dengan raut tak tak ikhlasmu.
Kini, aku hanya ingin kita berhenti berpura-pura, aku ingin aku dan kamu berhenti menjalani kisah yang salah. Kejarlah ia, lunasi cicilan kepastianmu padanya, aku tak apa. Aku akan meminta pada Pencipta supaya Ia menganugerahi hatiku dengan kotak keikhlasan. Aku akan meminta, semoga kamu merasakan bagaimana rasanya menjadi aku, aku akan meminta... semoga dengan kututupnya tulisan ini, tertutup pula segala sakit yang ada dalam dadaku.
Selamat tinggal, jika kamu yang kumaksud sedang membaca ini. Berhenti memperbaiki apa yang dari awal kamu lakukan dengan tiada sedikitpun niat baik. Aku paham alurnya, kamu akan berkata ini salah paham, tapi... tak ada salah paham berulang pada hal yang sama, sayang. Biarlah, ikhlaskan, kamu tak kan bisa memiliki dua hati sekaligus. Ambillah hatinya, ia lebih baik daripada diriku. Aku melepasmu dengan segenap sakitku. Semoga aku tak bertemu kamu di lain waktu.
Komentar
Posting Komentar