Dialog Malam -- Rasa yang tak terbaca

Aku hanya sedikit lelah. Entah mengapa, masalah kini datang di waktu yang sama. Kini segala keinginanku nampak mustahil sebab datang di waktu yang amat salah.

Aku sudah tidak mengerti harus apa, rasanya hidupku hampa. Aku laksana benda mati, hidupku terasa sudah tidak berarti. Aku lelah berpura-pura bahagia menutup tangis yang membanjiri hati, namun aku juga tak bisa berbagi kesedihan dengan seisi bumi-- dengan diriku sendiri pun, aku sulit membaginya.

"Kamu kenapa?"

Pertanyaan ke sekian yang kudapatkan. Pertanyaan yang sama, dengan jawabanku yang tetap sama pula.

"Gak apa-apa."

Bukan. Aku bukannya tidak kenapa-kenapa. Aku sendiri hanya bingung sebenarnya aku sedang kenapa. Apa sebab aku merasa sangat nestapa? Apa yang melatarbelakangi tangis terpendam dalam hati ini? Sudah-- aku sudah benar-benar tidak mengerti.

Rasanya ingin mati. Percuma hidup jika rasanya seperti sudah mati.

Aku tidak bisa menangis. Tidak bisa lagi mengeluh. Tidak bisa... aku... hampa. Semuanya terasa benar-benar percuma.

"Tidak ada yang percuma dalam hidup. Kesempatan untuk masih memperjuangkan kehidupan adalah salah satu tanda kau masih memperoleh keberuntungan dari Tuhan."

Memang, mungkin tidak ada yang percuma dalam hidup. Namun, bukankah mengeluh dan menangis adalah hal yang percuma? Berarti, ada yang percuma dalam hidup ini! Kata-kata bijak tak selalu benar, kata-kata bijak adalah hal paling tidak realistis yang pernah ada! -- bodohnya, kata-kata bijak adalah dimana kesedihan dan kenestapaanku bersembunyi.

"Mengeluh pun tidak percuma. Mengeluh adalah sarana menyadarkan bahwa kau adalah manusia biasa. Sedang menangis adalah naluri manusiawi, sejak bayi, kita sudah dibiasakan menangis.

Akan aneh dan membuat cemas apabila seorang bayi yang baru saja keluar dari perut ibu tidak mengeluarkan suara tangisnya, bukan?"

Aku lelah berdebat dengan pikiranku sendiri. Lelah. Aku ingin beristirahat. Lengkap dengan istirahat alam bawah sadar. Kepada siapapun : tolong, doakan dengan segenap keikhlasan agar aku kembali bangun dari setiap kejadian yang membuatku tumbang.

Doa baik akan selalu kembali pada yang mendoakan.

Semoga kita berhenti dihantui oleh rasa sesak yang sebabnya tak dapat dimengerti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berandai (Bisa) Memoles Otak

Kepadamu, yang menyakiti sedemikian rapi

Saya pergi karena--saya sayang sekali