Bahagia itu tipuan.
(edisi cerita pendek )
Kadang,
manusia terpaku pada hidupnya sendiri untuk menakar kesedihan, seolah-olah dirinya seorang yang paling menyedihkan, paling patut dikasihani, paling punya banyak masalah. Lalu, disaat bersamaan manusia juga selalu terpaku pada kehidupan orang lain untuk menakar kebahagiaan, seolah orang lain yang dilihatnya itu selalu lebih bahagia, selalu lebih mempunyai segalanya dan seolah semua orang selain dirinya adalah manusia yang paling beruntung, dan manusia sering menganggap dirinya adalah suatu kutukan yang abadi.Jujur, aku kesal dengan sifat-sifat manusia yang seperti itu. Namun, ya... aku juga manusia, maka dari itu cukup untukku memberi toleransi, supaya kalau-kalau aku sedang "kumat" manusia lain juga bisa memberiku toleransi yang sama.
Hari ini, mentari sedang tidak menampakkan diri meski sudah siang, hujan mengambil alih tugasnya untuk waktu yang tergolong lama.
Aku
Aku sengaja tidak berkutat dahulu dengan linimasa dunia maya, ingin sejenak saja menikmati dunia nyata meski tak ada manusia disini yang menjadi temanku bicara--karena mereka semua sibuk dengan dunia yang mereka genggam di ponsel masing-masing. Hingga ada sepasang sepatu lusuh berdiri disebelahku, lengkap dengan suara yang cukup familiar.
"Hallo," ucapnya membuatku menengadahkan kepala, berhenti melihat ujung kakinya untuk melihat rupanya.
"Oh ternyata kamu, Biru. Hai" balasku, senyum-- tanpa melihatnya saja sebenarnya aku tahu siapa dia.
Dia satu dari sembilan teman dekat yang aku punya dalam hidup ini. Kata-katanya sering menyadarkanku tentang apa-apa yang tidak aku sadari. Kadang, aku merasa dia seperti tampilan diriku dengan versi berbeda. Kadang pula, aku merasa dia seperti keajaiban yang Pencipta buat. Kadang, dia tampak sangat tinggi dengan tutur kata dan isi pikirannya yang membuatku selalu menunggu waktu bercakap dengannya. Dia adalah manusia yang jarang kutatap matanya, tidak tahu kenapa aku lebih tertarik melihat ujung kakinya atau alam sekitar saja saat sedang bicara dengannya. Jangan salah prasangka, tidak ada apa-apa di antara kami. Semua murni rasa persahabatan yang erat, itu saja.
"Ada cerita apa hari ini?" tanyanya.
"Bahagia itu apa, Biru?" jawabku-- atau lebih tepatnya, aku bertanya balik.
"Kata temanku, bahagia itu kamu." ucapnya.
"Heh? Maksunya?" tanyaku lagi, dengan kebingungan yang sesungguhnya.
"Ya begitu, seperti yang sering kamu bilang, manusia itu memang suka sekali menakar kebahagiaan dari orang lain. Kamu contoh nyatanya, banyak yang bilang kamu itu pendiam, tapi ceria sekali disaat bersamaan, seolah-olah hidupmu itu cuma tau bahagia kata mereka. Apalagi, kamu yang sering jadi tempat curhat amatir, jadi kayak paket lengkap orang bijak dan bahagia kata teman-temanku."
Tidak tahu kenapa, aku tertawa mendengar perkataannya,
“Lalu, kamu setuju sama perkataan mereka?” tanyaku.
“Aku lebih setuju kalau mereka bilang kamu cerewet dan
banyak tanya, banyak bicara dan bodo amat dengan seluruh masalah. Tapi, aku
mengaminkan perkataan mereka yang bilang kamu itu kayak paket lengkap orang
bijak dan bahagia,”
Aku menatap lurus, lekat pada hujan yang justru semakin
deras.
“Benar, ya? Yang terlihat itu kadang jauh dari kenyataan.”
“Tidak juga, mungkin kita yang tidak bisa lihat kenyataan dari sisi yang jauh seperti yang mereka lihat.”
“Tidak juga, mungkin kita yang tidak bisa lihat kenyataan dari sisi yang jauh seperti yang mereka lihat.”
“Tapi kamu tahu kan, aku gak kayak yang teman-temanmu bilang? Kalau mereka mengartikan bahagia itu aku, maka mereka amat keliru. Wong hidupku cuma tahu abu-abu.”
“Aku gak mau mengakui perkataanmu, kamu tahu biru, dan warna yang bahkan orang seusiamu belum tahu!”
“Tapi begitu kenyataannya Biru. Aku berbanding terbalik dengan yang terlihat. Meski berat menerima kenyataannya, tapi mau bagaimanapun begitulah adanya, tidak bisa kita ubah.”
“Ann…” ucap Biru jengah, aku tahu bercakap dengan manusia
yang penuh rasa putus asa sepertiku memang melelahkan.
“Bahagia itu Cuma tipuan, Biru.”
“Bahagia itu Cuma tipuan, Biru.”
“Bahagia itu salah satu dari rasa yang ada di dunia ini, Ann. Bahagia itu selalu ada, bahagia itu sederhana. Cukup berhenti mengurusi apa yang bukan urusanmu, jangan bawa hati pada hal-hal yang tidak perlu. Hidup bahagia itu sederhana sekali, Ann... cukup jadi versi terbaik dirimu, seperti yang sering kamu bilang. Berhenti menjadi "bahagia"atas dasar pandangan manusia lain. Kamu ya kamu, mereka ya mereka. Tutup telingamu dari mendengar pujian jikalau pujian itu akan membuatmu bahagia sesaat lalu hidup dalam jalan sesat sesudahnya. Tutup telingamu terhadap celaan yang menjatuhkan, bukan membangun. Istirahatkan matamu dari melihat kehidupan orang lain, supaya hatimu tidak turut menggerutu meminta hal yang sama seperti mereka yang jelas bukan dirimu.”
Aku cuma diam, sudah kehabisan kata-kata mendebatnya. Biru benar, aku harus kembali menjadi pribadi yang hidup berdasarkan versi terbaik menurutku dan Pencipta, bukan pandangan manusia. Aku harus berhenti merisaukan dan berasumsi tentang hal-hal yang tidak aku butuhkan. Aku sudah amat sangat beruntung dalam hidup ini. Dalam satu hari, aku masih bisa makan dengan kenyang. Aku bisa berganti pakaian dengan yang layak, bersih dan bagus menurutku. Aku masih punya waktu untuk membagikan apa yang aku tahu, supaya hidupku berarti, tidak sekadar makan tidur lalu mati.
"Biru, hujannya sudah reda. Terima kasih pencerahannya, kamu memang 'Biru' sesuai namamu."
"Kamu mentarinya, tanpamu, langit biru tak ada artinya. Hati-hati, kalau-kalau hatimu tersandung batu kehidupan lagi, ingat selalu ... bahwa sedih itu tipuan, ujian ada hanya untuk mendewasakanmu bukan untuk menjatuhkan. Sampai jumpa, Ann."
Komentar
Posting Komentar