Sederhana saja
Manusia itu, ternyata memang sifat dasarnya senang sekali "gaya", entah sesuai kemampuan atau tidak, yang penting gaya. contoh kecilnya, adalah diri saya sendiri. Waktu mendesain blog ini, saya mati-matian inginnya terlihat "wah"--padahal, saya benar-benar tidak tahu tentang dunia desain blog. Lalu, saya rasanya makin "tersiksa" saat lihat referensi desain blog dari orang lain yang jelas sudah lebih berkompeten daripada saya. Ada juga, yang desain blognya sederhana sekali, tapi saat melihatnya dalam hati saya bertanya-tanya, "kok, enak banget lihatnya, ya? Padahal, cuma gini aja, putih polos, warna font-nya hitam. Apa yang beda, ya?". Dari pertanyaan sendiri, akhirnya saya juga menemukan jawaban sendiri :
Buat apa heboh, penuh gaya, kalau isinya kosong dan gak ada artinya?
Sederhananya, sebelum melakukan apa-apa, kita memang harus punya tujuan. Karena, tujuan itulah yang membuat kita punya pendirian, dan tujuan juga yang bisa menuntun kita ingin melangkah kemana lagi, jalan mana yang harus kita lewati, juga jalan apa yang tidak harus kita lewati.
Saat kita mau makan, tujuannya apa? Karena lapar, atau karena sedang ingin saja, atau juga karena menghargai masakan ibu di rumah saja?
Saat kita mau mandi, tujuannya apa? Supaya bersih, atau sekadar mandi karena takut dibilang jorok karena tidak mandi-mandi?
Saat kita sedang pilih-pilih baju untuk dipakai, apa yang jadi tujuan kita memilihnya? Sekadar gaya, atau sesuai kenyamanan kita saat memakainya, atau menyesuaikan dengan tempat tujuan yang akan kita datangi?
Sekecil apapun hal yang kita lakukan, pasti ada tujuannya. Namun, namanya juga manusia, pasti ada saja godaan hidupnya. Saat kita sudah menentukan tujuan misalnya, akan ada banyak jalan lain yang terlihat lebih menarik untuk kita ikuti dibanding tujuan yang sudah tersusun rapi di awal rencana.
Seperti saya saat membuat ruang sepi untuk menulis ini, awalnya saya memang cuma benar-benar ingin mencari tempat lain selain Instagram dan wattpad untuk membagikan tulisan yang tidak seberapa. Namun, di tengah jalan--saya kebingungan bagaimana cara menulis di sini. Lalu sekitar satu bulan atau entah beberapa bulan, ada satu orang yang membuat saya rasanya merasa diikuti namun didahului.
Ada satu orang yang tiba-tiba mengabarkan bahwa ia punya blog, dan saya telat mengetahuinya. Dengan perasaan yang masih merasa telah "ditiru" saya membuka blognya, dan, ya... dia sudah memulai menulis meski dengan tulisan yang tak seberapa, dia sudah memiliki beberapa postingan di ruang miliknya itu.
Selain itu, desain blog yang ia miliki pun terlihat lebih menarik daripada blog saya sendiri--pada saat itu. Entah apa yang ada dalam pikiran saya, saya benar-benar merasa harus segera menulis di blog karena tidak terima sudah "diikuti tapi didahului".
Dan, saya sadar... saya salah tujuan. Prinsip saya yang dulunya adalah : menulislah karena ada banyak kegelisahan di muka bumi yang harus disampaikan. Seketika, berubah menjadi : menulislah supaya nampaklebih keren daripada "dia" yang sukses membuat saya kesal tanpa sebab yang jelas. Dan, saya tidak dapat apa-apa dari prinsip yang berbelit-belit seperti itu.
Berhari-hari setelahnya akhirnya saya kembali disadarkan untuk tetap menjadi sederhana, menjadi diri sendiri dalam versi terbaik. Tidak perlu heboh, asal berarti. Tidak perlu ramai minta diperhatikan, tidak perlu ramai menarik jutaan hati, yang penting tujuan dalam hati nurani tersampaikan rinci dan melegakan jiwa yang ada.
Menjadi "sederhana saja" memang selalu saya utamakan sejak dulu, kadang-- karena terlalu berusaha "sederhana" kesannya malah seperti tidak terurus, dalam bidang apapun. Saat saya sangat sederhana dalam belajar, saya telihat bodoh sekali. Saat saya terlalu sederhana memilih pakaian, saya sering terlihat salah kostum di berbagai acara. Dan, dari situ juga saya belajar bahwa menjadi sederhana tidak sama dengan menjadi tidak terurus.
Menjadi sederhana bukan berarti kita menjadi manusia yang berpakaian robek dan kusam, bukan juga berarti kita makan dengan makanan yang tidak layak. Menjadi sederhana berarti, kita melakukan segala hal yang ingin kita lakukan atau menggunakan apa yang kita ingin gunakan sesuai dengan tujuan yang sudah kita rencanakan, bukan karena ingin terlihat paling bagus, paling indah dan beraneka "paling" lainnya. Menjadi sederhana tidak selalu terlihat menyedihkan, justru kadang keindahan yang sesungguhnya muncul dari hal-hal sederhana yang sudah tidak banyak lagi pelakunya.
Jadilah sederhana, karena banyak sekali yang berhasil menarik perhatian dan menjadi "Paling gaya" dengan gaya yang luar biasa menakjubkan, namun dalam hatinya akan selalu ada yang kurang. Tapi percayalah, menjadi "paling menarik" karena sederhana akan terasa lebih menakjubkan, akan ada rasa cukup yang bersemayam di dalam dada, akan ada tentram bertengger di dalam jiwa.

Iya sih, pernah kepikiran juga "sederhana bukan berarti tidak boleh kaya"
BalasHapus