Dialog Biru--Introvert dan Problematikanya

Energiku rasanya habis terkuras. Akhir-akhir ini, aku terlalu cepat lelah. Entahlah, perasaanku saja atau memang begitu kenyataannya.

"Biru, aku capek banget. Serasa bukan jadi aku." Ujarku setelah menarik nafas panjang, hei, bahkan untuk berbicara pun rasanya aku mulai tak kuasa.

"Kebanyakan dopamin, ya, Ann?" Balas lawan bicaraku. Aku bahkan tidak bisa mengingat apa itu dopamin, rasanya ingin cepat tidur nyenyak saja.

Dahiku mengernyit, alisku naik sebelah, terlalu lelah bertanya dengan suara, biarlah raut wajah yang bersuara.

"Masa kamu lupa sih, Ann? Dopamin, senyawa yang muncul kalau kamu lagi senang. Kamu terlalu senang, ya? Sampai jadi agak bodoh begini?"

Aku mengangguk dan tersenyum bodoh. Aku tahu, Biru akan memaklumi semua kebodohanku karena dia sudah tahu sejak awal bahwa sebenarnya aku bahkan tidak pernah jadi pintar.

"Susah, ya, Biru, jadi introvert. Senang sedikit, capeknya bukan kepalang. Bicara sedikit, tremornya sepanjangan. Berusaha jadi ekstrovert, tapi ujung-ujungnya, tetap saja, kalau dopamin kebanyakan... capek. Gimana, ya, Biru? Capek!"

Biru menggeleng-gelengkan kepalanya, ikut lelah melihat tingkahku yang persis seperti anak kecil merengek pada bapaknya.

"Ann... segala hal, ada lebih dan kurangnya. Introvert punya problematikanya, ekstrovert tentu juga punya.

"Kita semua punya masalah, Ann. Tapi, semua masalah juga selalu punya solusi. Introvert yang punya masalah bukan berarti harus mengubah kepribadian jadi ekstrovert. Begitu juga sebaliknya.

"Cari cara paling tepat untuk melepaskan kelebihan rasa senang itu, Ann. Aku juga tidak suka kalau kamu terlalu senang, karena kamu sering lupa kalau ada aku di belakang.

"Kalau tidur dan beristirahat dalam waktu yang cukup panjang bisa jadi solusi yang paling tepat, maka lakukan, Ann--dengan kadar dan cara yang benar, bukan nanar."

Aku mengangguk-angguk, terlalu lelah untuk menjawab apapun itu, tapi tentu saja, segala yang Biru ucapkan masih bisa kuterima dengan baik.

"Sudah sampai di haltemu, Ann. Selamat jalan, ya. Hati-hati, lelah jangan sampai menyerah. Sampai jumpa di lain percakapan, Ann!"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berandai (Bisa) Memoles Otak

Kepadamu, yang menyakiti sedemikian rapi

Saya pergi karena--saya sayang sekali