Dialog Biru-- Kehilangan ketakutan
Aku gusar. Bukan kepalang, jika saja isi kepala bisa tembus pandang, maka mungkin jutaan benang kusut yang berdenyut di otakku ini sudah jelas terbentang.
"Kamu tahu, Biru, ada banyak sekali hal tentang hari-hari ke depan yang benar-benar aku takutkan." setelah hening cukup lama, aku membuka suara, jenuh sekali menyimpan semua ketakutan ini sendirian.
"Sebutkan, Ann. Siapa tahu, dengan membaginya, ketakutan itu bisa berkurang atau bahkan sirna." jawabnya, tenang, seperti biasa.
Aku menggigit bibir, bahkan hanya dengan berusaha mengucapkan ketakutan ini pun aku menjadi sangat takut. "Aku... cuma takut, akan kehilangan, Biru."
Biru menghela nafas, aku tahu, topik tentang kehilangan adalah hal yang sudah sering aku bicarakan, tapi, ayolah, yang kumaksud kali ini berbeda.
"Aku sudah bilang kalau apapun tidak pernah kita miliki seutuhnya, Ann. Apa yang harus ditakutkan lagi? Kamu juga sudah percaya dan memegang prinsip yang sama, bukan?" ujar Biru dengan suara dan pembawaan setenang laut.
Dengan sisa keberanianku membahas ketakutan yang terus menerus bersarang di kepala saat aku memikirkan masa depan, aku mengeluarkan suara, kerongkongan rasanya tercekat. Benar, aku memang setakut itu!
"Aku... takut kehilangan hal-hal baik yang masih tersisa dalam diriku, Biru."
"Aku... takut kehilangan diriku. Aku... takut... esok, lusa, aku jadi pribadi yang asing bahkan bagi cermin yang menatapku."
"Aku, takut... perubahanku condong ke kiri, bukan ke kanan, Biru..."
Biru diam sejenak, entah karena sedang memikirkan jawaban terbaik yang bisa ia berikan, atau mungkin memberi jeda supaya ketegangan yang aku rasakan menjadi sedikit berkurang.
"Ubah ketakutan itu jadi bahan bakar untuk melaju, Ann, jangan jadikan ia sebagai alasan untuk berhenti. Saat kamu takut akan jadi pribadi yang lebih buruk, maka gunakan ketakutan itu untuk terus belajar tentang hal-hal baik, untuk kemudian menebar dan melakukan hal yang sudah kamu pelajari." ujarnya, memberi jeda.
"Hatimu harus kuat untuk tidak terlena kanan kiri yang mungkin memang bisa membuat perubahanmu sedikit bergeser ke arah yang tidak seharusnya, dan... doamu juga harus lebih kuat supaya terus diberikan petunjuk agar tetap berjalan di jalan yang lurus." sekali lagi, ia memberi jeda, membiarkan aku mencerna dengan baik kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Apapun yang terjadi, kita harus tetap berjalan, Ann. Ketakutan bukan alasan untuk mendadak menghentikan segalanya. Ketakutan harus jadi bahan bakar supaya perjalanan semakin seru untuk dilanjutkan."
Aku tersenyum meski mungkin Biru tidak melihatnya, semua yang dikatakan ada benarnya.
"Ketakutan dalam pikiranmu pasti akan tetap ada dan mungkin memang akan terus ada, namun, kini, aku harap, kamu sudah lebih berani untuk memiliki ketakutan itu sendiri. Karena, ketakutan itulah yang bisa menjadi bahan bakarmu untuk melangkah lebih jauh lagi, Ann."
"Kamu tahu, Biru, ada banyak sekali hal tentang hari-hari ke depan yang benar-benar aku takutkan." setelah hening cukup lama, aku membuka suara, jenuh sekali menyimpan semua ketakutan ini sendirian.
"Sebutkan, Ann. Siapa tahu, dengan membaginya, ketakutan itu bisa berkurang atau bahkan sirna." jawabnya, tenang, seperti biasa.
Aku menggigit bibir, bahkan hanya dengan berusaha mengucapkan ketakutan ini pun aku menjadi sangat takut. "Aku... cuma takut, akan kehilangan, Biru."
Biru menghela nafas, aku tahu, topik tentang kehilangan adalah hal yang sudah sering aku bicarakan, tapi, ayolah, yang kumaksud kali ini berbeda.
"Aku sudah bilang kalau apapun tidak pernah kita miliki seutuhnya, Ann. Apa yang harus ditakutkan lagi? Kamu juga sudah percaya dan memegang prinsip yang sama, bukan?" ujar Biru dengan suara dan pembawaan setenang laut.
Dengan sisa keberanianku membahas ketakutan yang terus menerus bersarang di kepala saat aku memikirkan masa depan, aku mengeluarkan suara, kerongkongan rasanya tercekat. Benar, aku memang setakut itu!
"Aku... takut kehilangan hal-hal baik yang masih tersisa dalam diriku, Biru."
"Aku... takut kehilangan diriku. Aku... takut... esok, lusa, aku jadi pribadi yang asing bahkan bagi cermin yang menatapku."
"Aku, takut... perubahanku condong ke kiri, bukan ke kanan, Biru..."
Biru diam sejenak, entah karena sedang memikirkan jawaban terbaik yang bisa ia berikan, atau mungkin memberi jeda supaya ketegangan yang aku rasakan menjadi sedikit berkurang.
"Ubah ketakutan itu jadi bahan bakar untuk melaju, Ann, jangan jadikan ia sebagai alasan untuk berhenti. Saat kamu takut akan jadi pribadi yang lebih buruk, maka gunakan ketakutan itu untuk terus belajar tentang hal-hal baik, untuk kemudian menebar dan melakukan hal yang sudah kamu pelajari." ujarnya, memberi jeda.
"Hatimu harus kuat untuk tidak terlena kanan kiri yang mungkin memang bisa membuat perubahanmu sedikit bergeser ke arah yang tidak seharusnya, dan... doamu juga harus lebih kuat supaya terus diberikan petunjuk agar tetap berjalan di jalan yang lurus." sekali lagi, ia memberi jeda, membiarkan aku mencerna dengan baik kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Apapun yang terjadi, kita harus tetap berjalan, Ann. Ketakutan bukan alasan untuk mendadak menghentikan segalanya. Ketakutan harus jadi bahan bakar supaya perjalanan semakin seru untuk dilanjutkan."
Aku tersenyum meski mungkin Biru tidak melihatnya, semua yang dikatakan ada benarnya.
"Ketakutan dalam pikiranmu pasti akan tetap ada dan mungkin memang akan terus ada, namun, kini, aku harap, kamu sudah lebih berani untuk memiliki ketakutan itu sendiri. Karena, ketakutan itulah yang bisa menjadi bahan bakarmu untuk melangkah lebih jauh lagi, Ann."
Komentar
Posting Komentar